Archive for June 4th, 2008

Tikus Kampung Tikus Kota (TikaTiko)

Dulu waktu masih dikampung..aku pernah ikut acara gropyokan tikus di sawah..fuihh dapetnya tikus2 yang ukurannya segenggaman tangan…padahal kalo hari biasa kayaknya ga ada tikus..pas gropyokan tikus dapetnya banyak banget. Waktu pindah ke bandung..fuihh jadi kaget..hampir disetiap sudut kota ada tikus…gedhe2 lagi.

Jadi iseng bikin perbandingan antara tikus kampung dan tikus kota.

Tikus kampung tuch kecil-kecil.. Yang dimakan juga ‘cuma’ gabah2 petani kecil…mereka bekerja bergerombol…tapi dasar tikus kampung masih sembunyi sembunyi..takut takut..bekerja underground..umm kalo diambil kesimpulan sich..mereka type pencuri yang masih merasa malu ketahuan jadi pencuri. Dan para penjaga..para kucing masih berkuasa atas mereka..jadi mereka merasa takut kalo ada kucing-kucing lewat..ato mungkin didesa kucingnya adalah kucing pilihan..kucing dengan keberanian dan kejujuran

Tikus kota beda type…mereka gedhe-gedhe.. ngambilnya juga ga cukup yang kecil-kecil, mereka perampok dengan tampang keren..liat aja mereka jalan dengan santai..dengan badan segedhe gaban..ga merasa malu kalo ada kucing penjaga lewat..kalo kata ustadz “sudah hilang urat kemaluan mereka :p “. Kucing penjaga kayaknya takut dengan mereka…kalah “kuasa” keknya.ato jangan-jangan karena kota udah modern..udah ada kerjasama antara kucing dengan tikus-tikus gedhe itu?

Whateverlah…biarin aja tikus-tikus itu (sambil kesel dah bikin Indonesia hancur).

Langkah… satu kata yang harus terus tumbuh

Setiap hari..setiap jam..setiap menit..setiap detik kita tak terasa kadang pergi begitu saja..berlalu seolah-olah tidak pernah melintas dalam benak ini…meninggalkan kita dalam penyesalan dan keterpurukan… meninggalkan kita dengan tawanya yang pongah. Eh..tapi apakah benar tawanya itu pongah? Ataukah hanya segelintir orang yang menganggapnya seperti itu? Apakah mungkin jika kita berusaha melihatnya dari sisi pandang yang lain akan terlihat tawanya yang begitu manis..begitu renyah terdengar..begitu indah terasa.

Tapi kenapa langkah itu harus terus tumbuh?

Ketika kakiku melangkah satu kali…disaat yang sama sang waktu melangkah satu kali juga…disaat aku berusaha mengerti…berusaha maju satu langkah…disaat itu juga sang waktu “berusaha” maju satu langkah pula…ketika aku memakan satu sendok eskrim dalam waktu sekejap..disaat itu pula sang waktu memakan sisa masa yang akan dia tempuh…dengan setia dia menemaniku saat aku maju melangkah..menungguku untuk lengah…menungguku untuk merasa cukup dan merasa puas..menungguku untuk melepaskan kepenatan saat merasa berlebih…disaat itulah dia dengan senyum sinisnya akan meninggalkanku…disaat itu juga dalam hati dia mentertawakan kebodohanku..dan disaat itu juga dia berkhianat kepadaku..meninggalkanku terseok-seok karena pada titik itulah aku tidak lagi dapat mengejarnya…dia tidak perlu berusaha mendahuluiku…dia tidak perlu hasrat untuk mengalahkanku…yang dia punya hanya sabar dan konsistensi…tiap langkah detik dia lakukan dengan konstan..berjalan secepat siapapun yang dia ikuti.. Namun ketika aku berhenti melangkah..dia terus melangkah..dalam sekejap waktu aku mengambil nafas..disaat itu pula dia melintasiku…


 

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

a